PERAKITAN DAN KEAMANAN PANGAN TRANSGENIK

Posted on Posted in Food Knowledge, Kail

Narasumber oleh Nono Carsono, SP., M. Sc., Ph. D

Resume oleh Mega Rahmawati

Tanaman transgenik adalah karakterisasi DNA “Modern Biotechnology” yang diisolasikan atau melalui proses kloning, menggunakan metode transfer DNA penembakan partikel dan Agrobacterium tumefaciens. Metode penembahan partikel ini paling sering digunakan dan paling efisien, sedangkan metode Agrobacterium tumefaciens dikatakan kurang efisien dan sangat sulit karena dilakukan dengan cara mentrasnfer DNA ke pusat sel tanaman.

–          Trandisional plant breeding : terkadang adanya gen yang tidak diharapkan

–          Plant biotechnology : hanya gen yang ditunjukan saja

Lebih dari 50 produk tanaman pangan transgenik di Indonesia, diantaranya canola, jagung, cotton, kacang tanah, kakao, kedelai, padi, pepaya, tebu, tembakau dan ubi jalar. Tanaman transgenik tersebut memiliki sifat yang bermacam-macam diantaranya tahan pengerak batang. Di Brazil hampir 70% tanaman transgenik, karena pada tanaman transgenik yang terkena hama, hama dapat dibasmi dan  pada tanaman tidak terjadi kerusakan serta tahan terhadap panas, hal ini tentunya akan lebih menguntungkan.

Tepung beras merupakan salah satu hasil tanaman transgenik yang diteliti. Tepung beras biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan roti, penambahan protein pada tepung beras ini akan membuat adonan tidak mudah pecah bahkan menjadi lebih kalis seperti penggunaan tepung gandum. Ada juga tomat dengan transgenik miraculin yang dapat memodifikasi rasa ketika dikonsumsi.

 Apakah tanaman alami lebih aman dibandingkan dengan tanaman transgenik?

Makanan yang berasal dari tanaman alami tidak selalu aman, karena setiap bahan pangan pasti selalu beresiko. Bahan makanan alami juga dapat mengandung toksik , contohnya tomat yang diteliti sebelum tahun 1980 tanaman tomat ini tidak dapat dikonsumsi karena mengandung toksik. Sehingga dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Tanaman transgenik lebih aman dikonsumsi karena melalui proses bioprocess safety serta penggunaan peptisida yang takarannya tidak sebanyak dan sesering tanaman alami. Tanaman transgenik pula telah dilakukan identifikasi resiko, biosafety yang dilakukan dengan cara test alergen, test toksikasitas dan tes keamanan pangan sehingga dapat meminimalisir bahaya tanaman pangan transgenik.

Kesepadanan substansial, protein, lemak, dan perubahan nilai gizi merupakan langkah pengkajian keamanan pangan karena tanaman transgenik memiliki gen yang asing sedangkan tanaman alami memiliki gen yang tidak asing bagi tubuh. Tidak semua tanaman dapat dijadikan tanaman transgenik, karena harus sesuai dengan karakter alamiah tanaman tersebut dan tergantung gen yang mengendalikan karakteristiknya. Faktor kualiatif (lingkungan) dan kuantitatif lah yang mempengaruhi. Gen dapat diisolasi dengan gen hewan pada tanaman transgenik, karena komponen gen tersebut pada dasarnya sama yaitu “AGTC” basa nitrogen yang dapat dibedakan yaitu warna. Contohnya mawar biru, sedangkan kandungan nutrisinya dapat dibedakan dengan analisis.

Do you need a good essay writer? It’s really difficult to find such.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *