Synthetic Food : Another Fake Food Scandal

Posted on Posted in Food Issues, Food Knowledge, Kail

“Synthetic Food : Another Fake Food Scandal”

Narasumber oleh Edy Subroto, S.TP, M.P.

Resume oleh Venitha Dwi H

Istilah makanan sintetis atau makanan palsu tentunya tidak asing lagi di telinga kita semua sebagai konsumen pangan. Makanan palsu seolah menjadi topik menarik yang tidak ada habisnya diberitakan di media cetak maupun media elektronik. Pernah mendengar berita susu palsu? Telur palsu? Atau mungkin beras palsu? Pemalsuan pada dasarnya merupakan kegiatan dengan sengaja mengganti, menambah, mengurangi atau menghadirkan secara keliru suatu bahan atau produk pangan, kemasan pangan serta memberikan informasi yang tidak benar pada label demi keuntungan ekonomi atau kepentingan produsen. Menurut data yang diperoleh, sedikitnya 800 kasus pemalsuan yang tercatat dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Hal ini bisa saja terus meningkat secara siginifikan karena produsen yang semakin cerdik dalam menyalahgunakan ilmunya demi meraih keuntungan.

Susu bermelamin merupakan salah satu contoh produk yang dipalsukan. Seperti yang diketahui bahwa semakin tinggi protein dalam susu maka harga susu yang ditawarkan semakin mahal. Hal ini menjadi penyebab oknum curang menambahkan zat melamin ke dalam susu. Kandungan satu mol melamin setara dengan enam mol protein dimana bila diuji kandungan proteinnya, maka melamin tersebut terhitung sebagai protein. Melamin bila masuk ke dalam tubuh akan bereaksi dengan asam sianurat dan membentuk kristal yang menjadi penyebab batu ginjal. Selain susu bermelamin, produk yang dipalsukan lainnya adalah telur, merica dan yang sedang marak diberitakan adalah beras plastik. Telur palsu ini dinilai tidak memiliki kandungan gizi karena bahan utamanya merupakan bahan tambahan makanan seperti natrium alginate, tawas, kalsium klorida, pewarna, dan kalsium karbonat di bagian cangkang. Konsumsi tawas dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit mental serius yang mempengaruhi kemampuan berpikir, dan bertingkah laku abnormal. Saat membeli telur, konsumen harus cermat dalam memilih telur yang akan dikonsumsi. Telur palsu memiliki kulit yang kasar dan tidak merata, bila dipecahkan tidak memiliki rongga udara, tekstur dan rasanya mirip seperti jelly.

Merica palsu merupakan produk palsu lainnya. Merica palsu terbuat dari tepung singkong, tetapi ada dugaan bahwa merica palsu ini terbuat dari semen. Jika benar positif terbuat dari semen, maka berbahaya bagi ginjal. Merica palsu memiliki ciri – ciri mengambang dan akan hancur bila direndam dalam air. Produk palsu lainnya yang tengah hangat diberitakan saat ini yaitu beras plastik. Beras plastik terbuat dari resin sintetik (polyvinyl klorida/PVC) yang dikenal sebagai bahan baku pembuatan plastik dan paralon. Bahan tersebut tidak dapat dimetabolisme oleh tubuh dan berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Beras plastik diduga terbuat dari limbah plastik PVC karena plastik PVC yang sangat sulit didaur ulang. Beras palsu akan mudah meleleh, lengket dan bentuknya tidak beraturan bila dimasak. Tidak seperti beras palsu, bila dimasak bentuk beras menjadi nasi akan tetap utuh. Untuk mendeteksi beras palsu, kita bisa mengetahuinya dengan cara membakar beras tersebut. Apabila mudah meleleh maka dipastikan beras tersebut adalah beras palsu. Sebagai konsumen, tentunya kita harus cermat dalam memilih bahan makanan dan waspada bila melihat kejanggalan dalam suatu produk. Dalam hal ini, diperlukan peran pemerintah dan lembaga dalam mengawasi produk yang beredar secara ketat dan memberikan perhatian pada setiap proses produksi disamping pada pangan yang beredar. Peran teknolog pangan juga dibutuhkan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat dan sosialisasi tentang makanan sehat. Disamping itu, peran teknolog pangan juga diperlukan dalam pengembangan diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada salah satu jenis pangan, karena biasanya produk yang dipalsukan itu merupakan produk pangan strategis dimana masyarakat tergantung pada produk tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *